Berilmu, Berakhlak Berdayaguna

Monday, January 11, 2021

Formulir Pendaftaran Online

Keterangan:

1. Mengisi formulir pendaftaran yang telah disediakan
2. form yang berbintang merah berarti wajib diisi
3. Jika persyaratan belum lengkap/belum dimiliki maka kosongkan saja
3. ukuran file yang di upload maksimal 2 MB
4. tekan tombol submit jika sudah selesai mengisi formulir pendaftaran
5. Biaya pendaftaran calon peserta didik baru bisa melalui transfer atau secara langsung kepada panitia PPDB 
6. Untuk pembayaran melalui transfer ke no rekening Bank Central Asia (BCA) 8410476879 atas nama Muhamad Yusuf 
7. Konfirmasi pembayaran dengan mengirimkan foto atau screenshoot transaksi pembayaran melalui whatsapp 08560136400 
8. Bagi yang membayar secara transfer agar menyimpan bukti transfer dan diserahkan kepada panitia PPDB untuk ditukar dengan kwitansi pembayaran


Read More

Thursday, March 14, 2019

Makan ala santri





Read More

Kematian


sumber photo : https://asset.kompas.com/

Peringatan 40 Hari-an... adakah dalilnya?
        Selama ini segelintir umat Islam selalu saja mengindentikkan angka 7 hari dan 40 hari kematian dengan ajaran Hindu maupun Budha di Indonesia, meskipun telah banyak data-data sejarah / fakta didalam kitab-kitab ulama bahwa kebiasaan tersebut telah berlangsung sejak lama dan tidak hanya di Indonesia. Bahkan sampai sekarang pun, di Maroko misalnya, yang tidak pernah ada jejak Hindu, melaksanakan kegiatan seperti kebiasaan umat Islam di Indonesia.
         Angka 40 hari kematian, ternyata angka yang istimewa karena ternyata sejak masa manusia pertama yaitu Nabi Adam dan Sayyidah Hawa’ sudah ada. Didalam kitab Simtu al-Nujum, dikatakan bahwa Sayyidah Hawa (Siti Hawa) berada di tempat makam Nabi Adam selama 40 hari tanpa makan dan minum.
وَأَمَّا حَوَّاءُ: فَعَنْ وَهْبٍ: أَنَّهَا لَمْ تَعْرِفْ بِمَوْتِ آدَمَ حَتَّى سَمِعَتْ بُكَاءَ الْوُحُوْشِ وَالطَّيْرِ، فَقَامَتْ فَزِعَةً وَصَاحَتْ صَيْحَةً شَدِيْدَةً، فَأَقْبَلَ إِلَيْهَا جِبْرِيْلُ وَصَبَّرَهَا؛ فَلَمْ تَصْبِرْ دُوْنَ أَنْ لَطَمَتْ وَجْهَهَا وَدَقَّتْ صَدْرَهَا، فَوَرَثَ ذَلِكَ بَنَاتُهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. ثُمَّ إِنَّهَا لَزِمَتْ قَبْرَ آدَمَ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً لَا تُطْعِمُ الزَّادَ وَلَا الرَّقَادَ، فَأَخْبَرَهَا جِبْرِيْلُ بِاقْتِرَابِ أَجَلِهَا. فَشَهَقَتْ شَهْقَةً عَظِيْمَةً وَمَرِضَتْ مَرْضاً شَدِيْداً، وَهَبَطَ مَلَكُ الْمَوْتِ فَسَقَاهَا شَرَابَ الْمَوْتِ، فَفَارَقَتِ الدُّنْيَا. (سمط النجوم العوالي في أنباء الأوائل والتوالي للعصامي – ج 1 / ص 28)
“Sedangkan Hawa’, diriwayatkan dari Wahab (bin Munabbi) bahwa Hawa’ tidak mengetahui wafatnya Nabi Adam, hingga ia mendengat tangisan hewan dan burung. Lalu ia berdiri dan menjerit. Jibril mendatanginya dan memintanya bersabar, namun ia tidak bersabar, tanpa memukul wajahnya dan memukul dada. Maka hal itu diwarisi oleh para wanita hingga hari kiamat. Kemudian Hawa’ berada di makam Adam selama 40 hari, tanpa makan dan minum. Jibril memberi kabar kepadanya akan dekatnya ajal Hawa’. Ia histeris, lalu sakit parah. Malaikat maut turun dan memberinya minuman kematian, lalu ia berpisah dengan dunia” (al-Ishami, Simtu an-Nujum al-Awali, 1/27).
      Ulama Shafadiyah (Turki) juga pernah mengatakan terkait kebiasaan 40 hari kematian dimana mereka melakukan khataman al-Qur’an, bacaaan dzikir dan shadaqah selama 40 hari.
وَمَشَى أَمَامَهُ الْمَشَايِخُ وَالْعُلَمَاءُ وَالْأُمَرَاءُ وَجَمِيْعُ اْلأَحْزَابِ وَالْأَوْرَادِ وَأَوْلَادُ الْمَكَاتِبِ وَأَمَامَ نَعْشِهِ مَجَامِرُ الْعَنْبَرِ وَالْعُوْدِ سِتْراً عَلَى رِيْحَتِهِ وَنَتْنِهِ حَتَّى وَصَلُوْا بِهِ إِلَى مَدْفَنِهِ وَعَمِلُوْا عِنْدَهُ لَيَالٍ وَخَتْمَاتٍ وَقِرَاآتٍ وَصَدَقَاتٍ عِدَّةَ لَيَالٍ وَأَيَّامٍ نَحْوَ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً (سلك الدرر في أعيان القرن الثاني عشر للمرادي – (ج 1 / ص 496) وعجائب الآثار للجبرتي – (ج 1 / ص 242)
Ini merupakan data / fakta sejarah bahwa kebiasaan 40 hari juga ada di negara-negara lain.
Oleh: Ustadz Muhammad Ma’ruf Khozin(tanpa prolog)/ Muslimedianews 
Diedit kembali oleh : Muhamad Yusuf, S.H.I


Read More

Wednesday, March 6, 2019

Santri Ajaib

kiriman dari: 


Hasil gambar untuk ruhay azib
acengmuntaqo96@gmail.com














Seputar santri azaib. Yah zaman dulu sering di sebut jadul bin kuno, tapi jangan salah sobat, ! sebagaimana saya dengar cerita dari kiyahi atau ustadz, perjuangan mental belajar enggak kalah hebatnya dengan sekarang, top markotop deh... Ada ulama yang berjalan untuk menimba ilmu dari Bogor ke Banten dengan berjalan kaki, yah karena memang kendaraan masih jarang bahkan enggak ada apalagi GOJEK online, hehe.. beliau bisa sukses menimba ilmu perjalanan dari Bogor ke Banten kurang lebih satu bulan di tempuh dengan  berjalan kaki, bekal saja habis di jalan, bukan hanya itu yang bikin salutnya hafalan hafalan nahwu sorof dan lainnya bisa hafal di jalan. Wah top deh perjuangannya, sampai sukses beliau dapat gelar Abuya.
Masih cerita asyik ulama, ada ulama pada masa penjajahan yang waktu belajarnya sambil di kejar kejar Abang Belanda ... Hehe coba bayangin kalau kita seperti itu, di kejar cinta aja langsung terbius asmara.. haha. Yg bikin azibnya tetap saja ngaji tetap aja menghafal sampai bisa jadi ulama besar mendapat gelar Masternya ilmu. Banyak ibroh deh kalau dengar cerita ulama ulama dulu ta'jun dan ta'dzhim..  seputar ulama, dulu ada dua santri sama sama satu seperjuangan sama jadi ulama hebat, yang satu orangnya tidak mampu dan yang satu lagi orang kaya/ punya.. dan keduanya sama sama ta'dzhim kepada syaikhunya,  santri satu ta'dzhimnya dengan menjadi pelayan atau khodam Syaikh atau gurunya, melayani pekerjaan guru dengan sepenuh hati. Dan santri satu lagi ta'dzhimnya dengan sebuah pemberian ekonomi kepada gurunya dan rajin menghafal. Dan keduanya sama sama sukses dan mendapatkan ilmu yang berkah dan manfaat. Siapakah kedua ulama itu? Beliau dari santri tidak punya yaitu Abuya dari kadukaweng dan beliau dari santri yang punya adalah yang sering di sebut Mama dari Maribaya. Keduanya memiliki keahlian dalam bidang nahwu sorof. Tersentuh deh hati kalau dengar cerita perjuangannya.  Banyak kisah santri azaib yang tertuang dalam cerita kiyai. Ada ulama yang setiap malam full  pakai menghafal sampai subuh , dan di lakukan setiap hari. Kalau kita bergadang nya apa ? Hehe Satu lagi, sebenarnya banyak. Ada santri yang tiap malam dan siang tak lepas mata dan bibirnya dari menghafal, bajupun punya satu dan sampai keluar darah dari mata saking demennya menghafal. Segitunya..sampai sukses. Levelnya sekelas ulama tapi beliau pernah jadi kepala sekolah di yayasan lubang petir Banten.
Read More

Sunday, March 3, 2019

Mendidik anak di era digital

Sumber gambar: MubaadalahNews.Com


Pedoman untuk Mendidik Anak di Era Digital
Orang tua tidak perlu dibuat bingung dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, karena teknologi akan terus berkembang dengan sangat cepat. Bahkan melebihi kemampuan kita untuk mempelajarinya. 
Di zaman kakek moyang kita, mungkin mereka sibuk menasehati anak agar tidak terus menerus duduk di dekat radio untuk mendengarkan siaran. 
Di zaman orang tua kita, mereka sibuk menasehati anak-anak agar tidak kecanduan tayangan televisi. 
Di zaman kita, semua sibuk mengkondisikan anak agar tidak kecanduan gadget. Lima tahun dari sekarang, persoalan sudah berganti lagi.
Seperti apapun perkembangan zaman dan perkembangan teknologi, selalu ada garis lurus yang bisa diikuti. Yang membuat kita tidak menjadi bingung dan galau. 
Berikut 8 pedoman untuk mendidik anak di era digital saat ini, yang harus diaplikasikan secara kolektif oleh semua komponen anak bangsa, dimulai dari keluarga. Hendaknya ayah dan ibu berusaha untuk menerapkan delapan pedoman berikut ini dalam mendidik anak-anak sejak di rumah.
Ambil Tanggung Jawab 
Hendaknya orang tua mengambil tanggung jawab sepenuhnya dalam mendidik anak, karena inilah hakikat tugas utama orang tua. Pihak lain seperti sekolah, madrasah, pesantren hanyalah membantu orang tua dalam mendidik anak-anak. 
Orang tua penuh dengan keterbatasan, tidak mampu untuk mengajarkan segala hal kepada anak-anak, maka mereka memerlukan mitra untuk mendidik anak berupa guru, ustaz, sekolah, madrasah atau lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Namun, tanggung jawab utama pendidikan anak tetap ada pada orang tua.
Hadits Nabi SAW dengan jelas dan tegas menyatakan hal tersebut, "Setiap manusia dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi," Hadits Riwayat Muslim. 
Dengan jelas Nabi SAW menyatakan, orang tuanya yang menyebabkan anak keluar dari fitrah itu, padahal sejak kelahirannya Allah telah menjadikan manusia berada dalam fitrah. Nabi tidak menyatakan "gurunya", atau "sekolahnya", atau "masyarakatnya", atau "pemerintahnya", atau "gadgetnya". 
Namun yang disebutkan adalah orang tua. Ini menandakan, orang tua harus mengambil tanggung jawab pendidikan anak secara sepenuhnya, walaupun secara teknis bisa meminta bantuan kepada sekolah, madrasah, pesantren, kampus, dan lain sebagainya.
Sinergi Pengasuhan 
Hendaknya orang tua memiliki sinergi yang positif dalam mendidik dan mengarahkan anak. Harus ada sinergi antara ayah dan ibu dalam proses pendidikan anak. Jangan sampai pendidikan anak diserahkan sepenuhnya kepada ibu saja, atau kepada ayah saja, padahal mereka adalah keluarga yang utuh. 
Tentu berbeda kondisinya dengan keluarga single parent yang memang harus mengasuh dan mendidik anak secara sendirian. Ayah harus terlibat dalam pendidikan anak, demikian pula ibu harus terlibat dalam pendidikan anak. 
Mendapatkan pengasuhan dari kedua orang tua secara utuh akan berpengaruh secara sangat positif terhadap perkembangan kejiwaan anak hingga dewasa kelak.
Salah satu catatan penting dalam pendidikan anak dalam keluarga adalah, perlunya keseimbangan antara aktivitas di dalam dan di luar rumah. Hendaknya suami dan istri pandai mengatur waktu, pandai mengelola kegiatan, pandai membagi perhatian, sehingga semua tugas dan kewajiban baik di dalam rumah maupun di luar rumah bisa terlaksana secara optimal. 
Suami dan istri harus kompak dalam menjalankan kehidupan berumah tangga hingga pendidikan anak, sejak dari kompak dalam visi, kompak dalam pola asuh, kompak dalam komunikasi, kompak dalam sikap dan kompak dalam aturan.
Jadilah Orang tua yang Kuat, Pintar, Hangat dan Bersahabat 
Jadilah orang tua yang kuat, pintar, hangat dan bersahabat untuk mendampingi anak-anak di era cyber ini. Orang tua kuat, memiliki spiritualitas yang tinggi, memiliki visi, cita-cita dan berusaha mewujudkannya dalam keluarga. 
Orang tua pintar, terus belajar dan menambah ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk mendidik anak-anak. Orang tua hangat, selalu berlaku lembut, penyayang, penuh cinta kasih terhadap anak. 
Orang tua bersahabat, selalu berkomunikasi, mendengarkan curhat anak, mengerti keinginan anak, dan bisa mengarahkan dengan cara yang menyenangkan anak.
Dengan cara seperti ini, anak akan betah bersama orang tua di rumah, sekaligus mudah untuk diarahkan dan diingatkan. Anak nyaman bersama orang tua, dan tidak memberontak atau lari dari keluarga. 
Tidak ada alasan bagi anak untuk menjauh atau memberontak terhadap orang tua, apabila mereka memiliki ayah ibu yang kuat, pintar, hangat serta bersahabat. Tidak ada cara lain bagi ayah dan ibu agar bisa memiliki karakter tersebut kecuali dengan terus belajar dan memperbaiki diri. Ada sangat banyak sarana pembelajaran bagi ayah dan ibu untuk terus menerus meningkatkan kapasitas diri.
Tanamkan Nilai
Hal penting yang harus dilakukan orang tua dalam mendidik anak adalah menanamkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan kepada anak. Penanaman nilai ini sudah dilakukan sejak sebelum kehamilan. Islam mengajarkan adab hubungan suami istri, agar jika dari hubungan itu muncul kehamilan, bisa menghindarkan janin dari godaan setan. 
Islam mengajarkan sejumlah tuntunan saat menyambut kelahiran bayi, itu semua adalah bagian utuh dari cara menanamkan nilai tauhid, nilai kebenaran, nilai kebaikan kepada anak sejak dini. Bahkan sejak mereka belum ada.
Seiring pertambahan usia, anak harus mendapatkan penanaman nilai yang lebih lengkap dan lebih sempurna, sebagaimana telah dicontohkan oleh Luqman Al-hakim dalam Alquran. 
Luqman sebagai ayah telah menanamkan keyakinan tauhid ke dalam jiwa anaknya, menanamkan keyakinan akan pengawasan Allah, sekaligus menanamkan nilai-nilai kebaikan yang akan menjadi pedoman bagi sang anak untuk menjalani kehidupan hingga akhir hayatnya. Jika anak memiliki pondasi nilai yang benar dan kuat, akan menjadi modal terbesar dalam menghadapi seluruh bentuk tantangan pada berbagai keadaan dan beragam zaman.
Mentoring dan Monitoring
Anak-anak memerlukan mentoring tentang berbagai macam hal dalam kehidupannya. Misalnya tentang teknologi, anak harus mendapatkan edukasi tentang penggunaan internet dan gadget secara positif. Ada tutorial atau mentoring tentang cara pemanfaatan internet, mentoring tentang rambu-rambu boleh serta tidak boleh, sehingga anak sejak awal sudah mengerti batasan. 
Kadang orang tua sekedar memberikan segala sesuatu yang diinginkan anak tanpa mentoring. Misalnya membelikan HP, gadget, tablet, laptop, sarana game online dan akses internet tanpa batas kepada anak, namun tidak diawali dengan mentoring tentang cara pemanfaatannya secara positif. Dampaknya anak berpesta pora dengan semua fasilitas yang diberikan orang tua tersebut tanpa mengetahui batasan yang semestinya mengikat dirinya.
Selain mentoring untuk memberikan pengajaran, juga diperlukan monitoring. Hendaknya orang tua berusaha memonitor anak dalam penggunaan teknologi, jangan sampai kecanduan atau menggunakan untuk hal yang tidak sejalan dengan kebaikan. Orang tua perlu memonitor sahabat-sahabat dekat anak baik yang offline maupun online. 
Orang tua perlu memonitor lingkungan permainan, lingkungan pergaulan anak, sehingga menjadi tahu apakah anak berada dalam koridor kebenaran dan kebaikan, ataukah sudah menyimpang dan bahkan terjerumus ke dalam kejahatan. Sangat berbahaya jika anak lepas kontrol, tanpa monitoring dari orang tua.
Terapkan Aturan Screen Time dan Family Time
Ini menyangkut aturan di dalam rumah, hari apa dan jam berapa, atau berapa jam maksimal penggunaan gadget bagi anak-anak. Bukan hanya untuk anak-anak balita atau anak kecil, namun aturan ini juga berlaku untuk orang tua dan seluruh anggota keluarga. 
Harus ada "family time", di mana pada waktu tersebut seluruh perangkat harus diletakkan dan dijauhkan dari keluarga. Mereka berinteraksi dan berkomunikasi, atau berkegiatan secara bersama-sama, tanpa gangguan teknologi. Inilah hakikat "screen time" atau diet teknologi, bahwa ada pembatasan pemakaian secara ketat sehingga keluarga tidak terjajah oleh teknologi.
Sangat sering dijumpai, satu keluarga yang berkumpul di rumah atau bepergian bersama-sama dalam rombongan, namun tidak ada interaksi di antara mereka. 
Semua asyik dengan gadget, semua asyik dengan dunia masing-masing, tanpa peduli lingkungan sekitar. Kondisi ini, walaupun satu keluarga sedang berada di tempat yang sama, tidak bisa disebut sebagai "family time". Itulah "screen time" yang harus dibatasi, dan dibuat kesepakatan bersama dalam keluarga. Kehangatan kasih sayang dalm keluarga tidak boleh tergantikan oleh kehangatan interaksi dengan teknologi.
Kerjasama dengan Pihak Sekolah 
Orang tua tidak bisa sendirian dalam mendidik anak, maka harus ada kerjasama dengan pihak sekolah dan lingkungan sekitar dalam mewujudkan generasi bangsa yang berkualitas. 
Orang tua dan guru di sekolah harus saling mendukung upaya mewujudkan "good digital citizens", sebab pihak sekolah kerap memiliki pelajaran dan tugas terhadap siswa yang menggunakan perangkat gadget serta koneksi internet. 
Kadang dengan alasan mengerjakan tugas sekolah, anak minta dibelikan fasiltas gadget canggih, padahal tuntutan pihak sekolah tidak sampai ke tingkat itu. Hal-hal seperti inilah yang harus terus menerus dikomunikasikan dan disepakati antara orang tua dengan pihak sekolah.
Nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dengan di sekolah, hendaknya saling sinergi dan tidak berbenturan. Pada dasarnya, semua menghendaki lahirnya anak-anak yang salih salihah, takwa, cerdas, trampil, sehat, kuat, kreatif, inovatif, dan berbagai karakter positif lainnya. 
Hanya saja, terkadang dijumpai tidak sinkron antara aturan dan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dengan di sekolah. Dampaknya anak akan mengalami keterpecahan, harus percaya kepada siapa. Harus mengikuti siapa. Tentu situasi ini membingunkan bagi anak. Maka sangat penting kerjasama serta sinergi orang tua dengan sekolah agar semua tujuan pembelajaran bisa tercapai dengan optimal.
Ciptakan Lingkungan Pembelajaran
Lingkungan masyarakat juga harus mendapatkan edukasi dan diajak membuat kesepakatan positif untuk menciptakan suasana kondusif dalam pembelajaran anak.
Jika suasana di rumah, sekolah dan lingkungan sekitar sudah kondusif, akan memudahkan untuk mengarahkan anak-anak menuju kebaikan karakter mereka. 
Kita ingat kejadian lama, saat masyarakat tengah dihadapkan pada realitas anak-anak yang kecanduan dengan televisi. Muncullah formula JBM alias Jam Belajar Masyarakat, dimana masyarakat diminta mematikan televisi pada jam 18.00 -- 20.00 karena itumerupakan jam mengaji dan belajar bagi anak.
Formula itu menjadi sangat menarik, bukan soal angka jam yang dipersoalkan, akan tetapi pada keterlibatan masyarakat dalam menciptakan situasi dan kondisi pembelajaran bagi anak-anak. Inilah yang dimaksudkan sebagai lingkungan pembelajaran, karena anak-anak Indonesia tumbuh berkembang di tengah kehidupan masyarakat. 
Jika di rumah TV dimatikan, seorang anak bisa keluar untuk menonton TV di rumah tetangga. Jika tetangga terdekat TV-nya juga dimatikan, ia bisa numpang nonton di rumah tetangga sebelahnya lagi. Maka begitu masyarakat semuanya kompak mematikan TV, anak-anak tidak lagi memiliki alternatif.
Di zaman sekarang ide JBM itu masih tetap relevan. Bisa diberlakukan untuk jam mematikan gadget bagi seluruh anggota keluarga, guna mendukung anak-anak untuk belajar dengan sebaik-baiknya, dalam suasana yang kondusif. 
Relevansi JBM lebih bertumpu kepada model pembentukan lingkungan pembelajaran di tengah masyarakat. Sungguh ini ide keren, karena suasana pembelajaran akan kondusif apabila mendapatkan dukungan nyata dari lingkungan sekitar. Hendaknya masyarakat selalu memberikan suasana yang kondusif bagi proses pembelajaran anak-anak.
Namun, yang lebih utama dan paling utama adalah suasana di dalam keluarga itu sendiri. Sebab, segala sesuatu dimulai dari keluarga. Maka apabila keluarga terjaga kebaikannya, akan berpeluang untuk melahirkan anak-anak yang baik, anak-anak yang salih dan salihah. 
Orang tua yang kompak dalam kebaikan, mampu membangun cinta dan kasih sayang, mampu memberikan suasana yang nyaman dalam keluarga, akan berdampak positif bagi anak hingga mereka dewasa kelak. Sebaliknya, orang tua yang sering bertengkar, sering konflik, akan memberikan dampak negatif bagi anak-anak.
Bahkan psikolog E. Mark Cummings, PhD dari Universitas Notre Dame menyatakan bahwa pertengkaran orang tua bisa berdampak kepada anak di segala usia. Artinya, dalam konteks pertengkaran orang tua ini, tidak bisa dikatakan bahwa anak tidak akan terdampak jika ia masih sangat kecil, maupun ketika sudah dewasa. 
Baik masih bayi maupun anak yang sudah dewasa bahkan sudah berkeluarga, pertengkaran orang tua memiliki dampak negatif bagi mereka. Maka hendaklah menjadi orang tua yang kompak dalam kebaikan, kompak dalam cinta dan kasih sayang, sehingga anak-anak akan tumbuh dalam suasana yang positif dan konstruktif.
Sumber artikel: https://www.kompasiana.com/pakcah/5b85c753aeebe11eba075015/8-pedoman-pendidikan-anak-di-era-digital?page=all
Referensi:
1.      Abdullah Nasih Ulwan, Pendidikan Anak Dalam Islam, Insan Kamil, 2015
2.      Abdul Wahhab Hamudah, Manajemen Rumah Tangga Nabi Saw, Pustaka Hidayah, 2002
3.      Abu Al Hamd Rabi', Baitul Muslim Al Qudwah, Era Adicitra Intermedia, 2015
4.      Cahyadi Takariawan, Wonderful Family, Era Adicitra Intermedia, 2016
5.      Daniel Goleman, Emotional Intelligence, PT Gramedia Pustaka Utama, 2000
6.      Darlene Powell Hopson dan Derek S. Hopson, Menuju Keluarga Kompak, Kaifa, 2002
7.      Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, Erlangga, 2006.
8.      Ida Nur Laila, Menyayangi Anak Sepenuh Hati, Era Adicitra Intermedia, 2007
9.      Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja, Rajawali Press, 2006
10.  Syaikh Hasan Ayyub, Fikih Keluarga, Pustaka Al Kautsar, 1999

Read More

Thursday, February 28, 2019

Cerpen 2

Ajari Aku Cemas Itu

Di ruang yang megah; tempat berlangsungnya suatu acara.
Saat itu aku sedang berbincang hangat dengan seorang perempuan, perempuan itu bernama Lina. Aku dan dia baru saja berkenalan di tempat tersebut. Sejak awal perkenalan kami, aku mengira bahwa dia berasal dari daerah Jawa, habis manis senyumnya, ayu pula macam wong jowo. Setelah berkenalan lebih jauh, ternyata dia berasal dari Sumatera Barat.
“Ih aku dari Padang tau, asli minang, engga seperti orang sana ya? hehe” ujarnya.
Awalnya memang tak menyangka, karena selama ini aku banyak memiliki teman yang juga berasal dari tanah Sumbar, jadi setidaknya aku dapat sedikit mencirikan orang yang berasal dari sana. Namun faktanya lain, Hmm, betul juga, hanya melihat saja tidak cukup rupanya, hampir saja aku lupa bahwa sejatinya kita harus selalu tabayyun (mencari kejelasan tentang sesuatu hingga benar adanya), karena apa yang kita lihat dan dengar terkadang tidak cukup untuk membenarkan suatu hal, apalagi jikalau hanya ber’spekulasi’.
Kami masih asyik berbincang, bersamaan dengan itu aku menyadari bahwa ada seorang perempuan yang duduk persis di belakangku. Awalnya memang ada yang duduk di posisi tersebut, tapi sepertinya bukan orang yang sama, aku amat yakin karena dari pakaiannya saja sudah jelas berbeda, yang saat ini duduk di belakangku adalah perempuan syar’i yang anggun dan bercadar.
Dia terlihat diam saja, tak memperlihatkan gerak-gerik apapun. Aku selalu merasa tak enak hati apabila melihat ada seseorang hanya berdiam diri tanpa sesiapapun di dekatnya, seolah tak ada teman untuk berbagi cerita. Jujur aku ingin sekali menyapa, namun seperti biasa, keraguan tak pernah mau kalah dengan kemauan. Ah ya, sungkan, bingung, bagaimana memulainya.
Aku berusaha untuk terus mengamati dengan menoleh ke kanan maupun ke kiri, melakukan suatu hal yang tujuannya hanyalah untuk mendapati dia sedang melakukan apa. Sejak lama aku menaruh rasa kagum dengan remaja perempuan yang memutuskan untuk melindungi wajahnya dengan cadar, aku selalu antusias apabila melihat perempuan bercadar, rasanya ingin mengenal mereka lebih jauh dan melontarkan berbagai pertanyaan, syukur-syukur kalau bisa berteman baik. Ingin sekali diri ini menyapa, tapi malu, khawatir salah bicara.
Setelah berusaha untuk mengumpulkan keberanian, aku pun mantap untuk memulai, baru saja ingin berbalik badan dan menyapa, seketika saja..
“duh, hmm, aduh..” dia bergumam cemas, sangat cemas.
Sontak aku pun khawatir karena mengira bahwa dia sakit, “ada apa ya ukh? kenapa?”
“Di dekat saya ini banyak ikhwan (laki-laki), saya takut, aduh gimana ya..” jawabnya dengan nada yang begitu cemas terdengar olehku.
Seketika aku terdiam, bingung.
“Dia takut akan suatu hal yang biasa aku sepelekan?”
Duduk dengan jarak yang cukup dekat -dengan ikhwan- bagiku bukanlah suatu hal yang harus dipermasalahkan, yang penting tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturanNya, begitu pikirku selama ini. Namun bagi dia berbeda, ah ya pasti, jelas berbeda.
Jujur, sebetulnya aku merasa ‘tertampar’.
Aku bingung, harus merespon dengan tindakan seperti apa, dia terlihat begitu khawatir, rasa cemas terlihat dari sorot mata nan indah itu, bagai berada di dekat harimau yang siap menerkam dirinya.
Entah mengapa aku jadi ikut mencemasi hal tersebut, spontan aku pun berkata padanya,
“Sini, agak maju saja ke depan, duduk di sampingku, supaya lebih berjarak dengan ikhwan-ikhwan tersebut.”
Tanpa berbicara sepatah kata pun, dia seolah langsung mengiyakan dan bergeser menuju sampingku, alhasil kami duduk bersebelahan, begitu dekat sampai membuatku kikuk. Tak hanya sebatas itu, tas yang dia miliki diletakan tepat di belakangnya, ya tentu, untuk membatasi antara dia dengan ikhwan-ikhwan yang berada di belakang kami.
“uh, terima kasih ya, aku kaget tadi, sewaktu menoleh ternyata ada beberapa ikhwan.” jelasnya padaku.
“hehe iya, sama-sama, nama kamu siapa?”
“Namaku humaira, kamu?”
“Aku Wulan”
Obrolan kami terus berlanjut, hingga kami pun mulai mengenal satu sama lain, selama itu pula aku banyak mengamati dia, seperti biasa, aku selalu penasaran akan apa saja amalan baik yang dilakukan seseorang, berharap aku dapat melakukannya juga, karena itu aku sangat bahagia apabila memilki teman yang baik serta shalihah, teman yang dapat membawaku ke arah yang baik, bukan malah menjerumuskan ke arah yang buruk.
Dia banyak mendengarkan ayat suci Al-quran melalui aplikasi di handphonenya, dia berkata bahwa itu adalah salah satu hal yang dapat membuatnya merasa tentram, walau tidak bisa beribadah dikarenakan sedang ada udzur. Dia sangat mengoptimalkan fungsi alat elektronik tersebut dalam perkara yang baik. Dia juga mengajakku untuk join ke group yang beanggotakan dia bersama teman-temannya, tentunya group tersebut digunakan sebagai wadah sharing ilmu dan informasi seputar kajian yang baik untuk diikuti.
Alhamdulillaah, tak henti kuucap syukur kepadaNya saat itu, kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, jika mengingat masa lalu, aku seolah ingin menertawakan diriku sendiri, bodohnya mengapa aku baru saja sadar akan suatu hal yang amat menakjubkan seperti ini, berada di lingkungan wanita-wanita shalihah yang begitu rendah hati, tegas dalam bersikap dan menjaga diri, ah malu, aku malu, dengan diri yang ‘mengaku sudah berhijrah’, tapi sikap kepada lawan jenis masih saja belum terbatasi, masih belum sepenuhnya terjaga.
“kemana saja kamu lan selama ini?” tanya hati.
Ah ya, betul juga, kemana ya?
Kemarin aku terlalu dibutakan duniawi, sepertinya.
Setelah merasa cukup untuk flashback tentang masa lalu kelam itu, rasa penasaranku mencuat kembali tentang hal yang baru saja terjadi,
“Humaira, bolehkah aku bertanya?”
“Tentu saja, Wulan mau bertanya apa?”
“Mengapa tadi kamu begitu cemas, mengapa tadi kamu begitu takut?”
“Hmm, begini Wulan, kamu tau tidak bahwa hijab yang kita kenakan saat ini hanyalah salah satu cara dalam menjaga iffah, dan terkadang banyak wanita yang tidak mengambil langkah selanjutnya yaitu dengan menjaga jarak dari laki-laki yang bukan mahram. Aku bukan sok suci, bukan sombong, bukan kelewat kolot dalam menjaga izzah lan. Hanya saja tidak nyaman sekaligus takut jika aku maupun mereka akan melanggar perintahNya. Bukankah saling mencegah itu baik? Kalau memang hanya kita yang sadar bahwa hal tersebut seharusnya dihindari, wajib bagi kita untuk bertindak, syukur-syukur kalau kamu berani negur mereka untuk bisa menjaga jarak dari kita (kaum muslimah). Pandangan laki-laki itu bakal merugikan kita loh, dan tentunya merugikan dia juga.”
Humaira pun melanjutkan,
“Tidaklah tinggi harga diri seorang wanita apabila dirinya mudah di dekati banyak laki-laki, mudah digoda, dan mudah di ajak melakukan hal yang melanggar perintah Allah. Kamu mau menjadi perempuan yang berharga tinggi atau rendah lan?” Pertanyaan itu sontak membuyarkan lamunanku.
Ah, humaira, jikalau saja kamu dapat merasakannya, begitu terenyuh hati ini mendengar penjelasanmu,
“Humaira,”
“Ya?”
“Bantu aku humaira.” ucapku seraya menatapnya.
“Bantu apa ukhti?”
“Bantu aku, ajari aku cemas itu.”
Kami sama-sama terdiam, dari sorot matanya itu aku tau, dia humaira tersenyum, lantas menyentuh lembut tanganku.
“In Syaa Allah, mari kita sama-sama jaga izzah dan iffah ya?” balasnya.
Sungguh, ucapanmu itu, terdengar begitu tulus.
Jazaakillaah khoiron katsiiron
Read More

9 Cara Ampuh Menghilangkan Noda Membandel Pada Pakaian

Bagi Anda ibu rumah tangga, menemukan noda pada pakaian mungkin sudah biasa. Namun, bagaimana dengan noda pakaian yang membandel, sudah dilakukan berbagai macam cara tapi noda tetap tidak bisa hilang. Hal ini banyak terjadi, terutama pada anak-anak.
Mereka masih belum bisa memahami cara menjaga kebersihan pakaian, entah dari makanan atau hal lain yang akhirnya menjadi noda membandel pada pakaian. Langkah yang biasanya dilakukan adalah membersihkan menggunakan banyak detergen. Namun, langkah ini bukannya noda yang akan hilang, justru tangan yang jari rusak karena serbuk detergen, atau karena berusaha menghilangkan noda, yang ada justru baju menjadi rusak.
Mungkin jika itu terjadi pada pakaian biasa, mungkin bisa dibuang, tapi bagaimana jika hal itu terjadi pada pakaian kesayangan Anda? Tidak mungkin kan Anda membuang sesuatu yang Anda sukai? Tenang, sebelum Anda membuang pakaian kesayangan Anda, ada baiknya Anda melakukan beberapa langkah-langkah berikut ini untuk menghilangkan noda membandel yang menempel di pakaian Anda. Sebelum Anda melakukan pembersihan, ada hal yang harus Anda ketahui telebih dahulu, yaitu penyebab dari noda itu sendiri. Setelah mengetahui penyebab noda, baru Anda menentukan langkah untuk membersihkannya. Berikut ini cara membersihkan noda yang menempel di pakaian berdasarkan jenis noda:

1. Cara Menghilngkan Noda Buah



Mungkin Anda pernah mengalami atau bahkan menemukan noda beberapa jenis buah-buahan di pakaian Anda, seperti berry. Buah yang memiliki warna menarik ini, tidak akan menarik jika ia menempel di pakaian Anda dan menjadi noda membandel yang sulit untuk dibersihkan. Meskipun buah ini menjadi salah satu buah favorit Anda, tapi tidak demikian dengan noda yang akan membuat baju Anda tampak berwarna, terlebih jika itu pakaian yang sangat Anda sukai. Tidak perlu repot dan bingung, untuk membersihkan noda ini ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan.Caranya:
  • Bilas pakaian yang terkena noda buah, bilas pada air mengalir hingga bagian yang melekat itu hilang dari pakaian Anda
  • Siapkan jus lemon dan air secukupnya untuk merendam pakaian
  • Campurkan jus lemon ke dalam air rendaman
  • Rendam pakaian yang terkena noda selama kurang lebih 30 menit
  • Setelah 30 menit, angkat pakaian dari rendaman, bilas dengan air mengalir
  • Rendam pada detergen atau cuci seperti biasa
Ada beberapa hal yang harus Anda ingat, Rendam sesegera mungkin setelah pakaian terkena noda buah, karena jika terlalu lama, noda akan menempel dan semakin sulit untuk dihilangkan, cairan atau jus lemon dipilih karena memiliki zat-zat yang dapat membantu mengangkat kotoran.

2. Cara Menghilangkan Noda Saus


Selain buah, noda saus seperti saus tomat juga menjadi salah satu noda yang sulit untuk dihilangkan, terlebih jika noda ini menempel pada pakaian berwarna putih. Namun, jika Anda telah mengetahui cara dan tekniknya, membersihkan noda saus akan menjadi hal yang mudah untuk dilakukan.Caranya:
  • Bilas pakaian yang terkena noda saus, bilas secara perlahan.
  • Tambahkan cairan pencuci piring saat Anda membilas pakaian yang terkena noda saus.
  • Siapkan air secukupnya untuk merendam kain dan tambahkan sedikit cairan cuka
  • Gunakan kain yang telah direndam dalam cuka untuk menggosok atau membersihkan noda saus.
  • Bilas pakaian setelah noda saus hilang.

3. Cara Membersihkan Noda Minyak


Pernahkan Anda mengalami atau menemukan noda membandel di pakaian Anda yang disebabkan oleh minyak ataupun mentega? Bagi ibu-ibu yang berada di dapur, mungkin noda ini sudah sering Anda alami, lalu bagaimana cara membersihkannya? Ternyata cukup mudah, yaitu:
  • Siapkan air secukupnya, cairan pencuci atau pembersih piring dan sikat gigi
  • Campurkan air dan cairan pencuci piring
  • Celupkan sikat gigi pada campuran, gunakan untuk menggosok noda atau inyak yang menempel pada pakaian Anda
  • Lakukan hingga noda menghilang
  • Lanjutkan dengan proses mencuci seperti biasa.

4. Cara Membersihkan Noda Coklat

Pakaian kesayangan Anda terkena noda coklat atau selai coklat? Cara yang bisa Anda gunakan untuk menghilangkan noda coklat yang menempel di pakaian Anda adalah menggunakan susu. Namun, ada hal yang Anda perhatikan, yaitu susu yang digunakan adalah susu yang berlemak, bukan susu skim.Caranya:
  • Siapkan susu yang berlemak dan sikat gigi
  • Oleskan susu pada noda pakaian
  • Gunakan sikat gigi untuk menggosok noda coklat pada pakaian hingga noda hilang, gosok secara perlahan.
  • Lanjutnya dengan proses mencuci seperti biasa
  • Lanjutnya dengan proses mencuci seperti biasa

5. Cara Mmebersihkan Noda Kopi

Bagi para pencinta minuman kopi, mungkin noda ini menjadi salah satu noda yang cukup sulit untuk dihilangkan. Namun, ternyata noda kopi bisa dihilangkan dengan cara yang cukup sederhana, yaitu:
  • Bilas pakaian yang terkena noda kopi dengan menggunakan air dingin
  • Bilas dari bagian belakang dengan air mengalir hingga noda kopi hilang terbawa air. Ingat, jangan dikucek
  • Setelah noda kopi hilang, oleskan detergen di atas bekas noda, diamkan selama kurang lebih 5 menit
  • Bilas pakaian seperti biasa

6. Cara Membersihkan Noda Lipstik

Pernah mengalami atau bahkan menemukan noda  lipsit menempel di pakaian Anda? Begini caranya untuk membersihkan noda lispstik:
  • Siapkan alkohol, kain, tisue atau kertas yang bisa menyerap cairan
  • Gunakan tisue atau kertas sebagai alas pakaian yang terkena noda. 
  • Ambil kain dan celupkan ke dalam alkohol
  • Gunakan kain tersebut untuk menekan bagian yang terkena noda lipstik. Ingat, bukan digosok, tetapi ditekan-tekan sampai nodanya menghilang.
  • Ganti alas kertas atau tisue jika sudah basah
  • Setelah nodanya hilang, cuci seperti biasa

7. Cara Membersihkan Noda Keringat

Semua orang pasti menghasilkan keringat dan keringat ini juga bisa meninggalkan noda pada pakaian Anda. Cara membersihkannya adalah:
  • Siapkan baking soda, hydrogen peroxide dan air dan sikat gigi
  • Campurkan baking soda, hydrogen peroxide dan air
  • Oleskan larutan menggunakan sikat gigi
  • Tunggu kurang lebih 30 menit, kemudian bilas dengan air bersih

8. Cara Membersihkan Noda Stiker

Stiker atau label pakaian yang menempel dapat menyebabkan noda di pakaian. Cara membersihkannya adalah:
  • Siapkan selai kacang
  • Oleskan selai kacang pada bagian label stiker yang menempel di pakaian Anda
  • Diamkan kurang lebih 5 menit sampai minyak dalam kandungan selai diserap oleh kain untuk mengurangi stiker yang melekat
  • Lepaskan stiker perlahan, kemudian bilas dan cuci pakaian Anda

  • 9. Menghilangkan Noda Tinta

  •  a. Gunakan Pasta gigi   

  • cara menghilangkan noda tinta di baju

    Pasta gigi sangat bermanfaat dalam segala jenis kebersihan, contohnya pasta gigi bisa menghilangkan jerawat ataupun menghilangkan komedo pada wajah dan di lain sisi pasta gigi juga bisa berfungsi sebagai penghilang noda tinta pada baju. Cara menghilangkan noda tinta di baju dengan pasta gigi cukup mudah yaitu dengan mengoleskan pasta gigi (tanpa pemutih dan tidak berbentuk gel) pada bagian yang terkena noda tinta, kemudian bilas menggunakan air dingin yang mengalir sambil usap kain dengan lembut menggunakan tangan.

    b. Gunakan Cuka Putih

    cara menghilangkan noda tinta di baju
    Lagi-lagi si cuka putih ini sangat bermanfaat, setelah kemarin cuka putih ini berfungsi untuk membersihkan panci yang gosong sekarang cuka putih juga berfungsi sebagai bahan utnuk cara menghilangkan noda tinta di baju. Cara menghilangkanya pun cukup mudah yaitu cukup tuangkan satu sendok teh cuka putih ke atas noda tinta lalu diamkan selama 10 menit. Setelah itu oleskan 1-2 tetes sabun cuci piring ke area tersebut dan gosok perlahan menggunakan tangan dengan perlahan. Setelah itu diamkan selama 5 menit, dan bilas dengan air dingin sambil menggosokkan sabun ke area tersebut.
    Cukup itu saja bahan untuk menghilangkan noda tinta di baju, jika Anda punya tips lain untuk cara menghilangkan noda tinta di baju Anda bisa menambahkanya pada komentar di bawah. Semoga tips cara menghilangkan noda tinta di baju ini bermanfaat serta berguna bagi anda yang mempunyai noda tinta di baju tetapi tidak bisa untuk di bersihkan.
*Dari berbagai sumber.


Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Popular Posts

Total Pageviews

Followers

Copyright © YAYASAN AL-KARIMAH SUKARAJA | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes - Published By Gooyaabi Templates | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com