![]() |
| Sumber gambar: MubaadalahNews.Com |
Pedoman untuk Mendidik Anak di Era
Digital
Orang tua tidak perlu dibuat bingung dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, karena teknologi akan terus berkembang dengan sangat cepat. Bahkan melebihi kemampuan kita untuk mempelajarinya.
Orang tua tidak perlu dibuat bingung dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, karena teknologi akan terus berkembang dengan sangat cepat. Bahkan melebihi kemampuan kita untuk mempelajarinya.
Di zaman kakek moyang kita, mungkin mereka sibuk menasehati
anak agar tidak terus menerus duduk di dekat radio untuk mendengarkan
siaran.
Di zaman orang tua kita, mereka sibuk menasehati anak-anak
agar tidak kecanduan tayangan televisi.
Di zaman kita, semua sibuk mengkondisikan anak agar tidak
kecanduan gadget. Lima tahun dari sekarang, persoalan sudah berganti lagi.
Seperti apapun perkembangan zaman dan perkembangan
teknologi, selalu ada garis lurus yang bisa diikuti. Yang membuat kita tidak
menjadi bingung dan galau.
Berikut 8 pedoman untuk mendidik anak di era digital saat
ini, yang harus diaplikasikan secara kolektif oleh semua komponen anak bangsa,
dimulai dari keluarga. Hendaknya ayah dan ibu berusaha untuk menerapkan delapan
pedoman berikut ini dalam mendidik anak-anak sejak di rumah.
Ambil Tanggung Jawab
Hendaknya orang tua mengambil tanggung jawab sepenuhnya dalam mendidik anak, karena inilah hakikat tugas utama orang tua. Pihak lain seperti sekolah, madrasah, pesantren hanyalah membantu orang tua dalam mendidik anak-anak.
Hendaknya orang tua mengambil tanggung jawab sepenuhnya dalam mendidik anak, karena inilah hakikat tugas utama orang tua. Pihak lain seperti sekolah, madrasah, pesantren hanyalah membantu orang tua dalam mendidik anak-anak.
Orang tua penuh dengan keterbatasan, tidak mampu untuk
mengajarkan segala hal kepada anak-anak, maka mereka memerlukan mitra untuk
mendidik anak berupa guru, ustaz, sekolah, madrasah atau lembaga-lembaga
pendidikan lainnya. Namun, tanggung jawab utama pendidikan anak tetap ada pada
orang tua.
Hadits Nabi SAW dengan jelas dan tegas menyatakan hal
tersebut, "Setiap manusia dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya
yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi," Hadits Riwayat
Muslim.
Dengan jelas Nabi SAW menyatakan, orang tuanya yang
menyebabkan anak keluar dari fitrah itu, padahal sejak kelahirannya Allah telah
menjadikan manusia berada dalam fitrah. Nabi tidak menyatakan
"gurunya", atau "sekolahnya", atau
"masyarakatnya", atau "pemerintahnya", atau
"gadgetnya".
Namun yang disebutkan adalah orang tua. Ini menandakan,
orang tua harus mengambil tanggung jawab pendidikan anak secara sepenuhnya,
walaupun secara teknis bisa meminta bantuan kepada sekolah, madrasah,
pesantren, kampus, dan lain sebagainya.
Sinergi Pengasuhan
Hendaknya orang tua memiliki sinergi yang positif dalam mendidik dan mengarahkan anak. Harus ada sinergi antara ayah dan ibu dalam proses pendidikan anak. Jangan sampai pendidikan anak diserahkan sepenuhnya kepada ibu saja, atau kepada ayah saja, padahal mereka adalah keluarga yang utuh.
Hendaknya orang tua memiliki sinergi yang positif dalam mendidik dan mengarahkan anak. Harus ada sinergi antara ayah dan ibu dalam proses pendidikan anak. Jangan sampai pendidikan anak diserahkan sepenuhnya kepada ibu saja, atau kepada ayah saja, padahal mereka adalah keluarga yang utuh.
Tentu berbeda kondisinya dengan keluarga single
parent yang memang harus mengasuh dan mendidik anak secara sendirian.
Ayah harus terlibat dalam pendidikan anak, demikian pula ibu harus terlibat
dalam pendidikan anak.
Mendapatkan pengasuhan dari kedua orang tua secara utuh akan
berpengaruh secara sangat positif terhadap perkembangan kejiwaan anak hingga
dewasa kelak.
Salah satu catatan penting dalam pendidikan anak dalam
keluarga adalah, perlunya keseimbangan antara aktivitas di dalam dan di luar
rumah. Hendaknya suami dan istri pandai mengatur waktu, pandai mengelola
kegiatan, pandai membagi perhatian, sehingga semua tugas dan kewajiban baik di
dalam rumah maupun di luar rumah bisa terlaksana secara optimal.
Suami dan istri harus kompak dalam menjalankan kehidupan
berumah tangga hingga pendidikan anak, sejak dari kompak dalam visi, kompak
dalam pola asuh, kompak dalam komunikasi, kompak dalam sikap dan kompak dalam
aturan.
Jadilah Orang tua yang Kuat, Pintar, Hangat dan
Bersahabat
Jadilah orang tua yang kuat, pintar, hangat dan bersahabat untuk mendampingi anak-anak di era cyber ini. Orang tua kuat, memiliki spiritualitas yang tinggi, memiliki visi, cita-cita dan berusaha mewujudkannya dalam keluarga.
Jadilah orang tua yang kuat, pintar, hangat dan bersahabat untuk mendampingi anak-anak di era cyber ini. Orang tua kuat, memiliki spiritualitas yang tinggi, memiliki visi, cita-cita dan berusaha mewujudkannya dalam keluarga.
Orang tua pintar, terus belajar dan menambah ilmu
pengetahuan yang diperlukan untuk mendidik anak-anak. Orang tua hangat, selalu
berlaku lembut, penyayang, penuh cinta kasih terhadap anak.
Orang tua bersahabat, selalu berkomunikasi, mendengarkan
curhat anak, mengerti keinginan anak, dan bisa mengarahkan dengan cara yang
menyenangkan anak.
Dengan cara seperti ini, anak akan betah bersama orang tua
di rumah, sekaligus mudah untuk diarahkan dan diingatkan. Anak nyaman bersama
orang tua, dan tidak memberontak atau lari dari keluarga.
Tidak ada alasan bagi anak untuk menjauh atau memberontak
terhadap orang tua, apabila mereka memiliki ayah ibu yang kuat, pintar, hangat
serta bersahabat. Tidak ada cara lain bagi ayah dan ibu agar bisa memiliki
karakter tersebut kecuali dengan terus belajar dan memperbaiki diri. Ada sangat
banyak sarana pembelajaran bagi ayah dan ibu untuk terus menerus meningkatkan
kapasitas diri.
Tanamkan Nilai
Hal penting yang harus dilakukan orang tua dalam mendidik anak adalah menanamkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan kepada anak. Penanaman nilai ini sudah dilakukan sejak sebelum kehamilan. Islam mengajarkan adab hubungan suami istri, agar jika dari hubungan itu muncul kehamilan, bisa menghindarkan janin dari godaan setan.
Hal penting yang harus dilakukan orang tua dalam mendidik anak adalah menanamkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan kepada anak. Penanaman nilai ini sudah dilakukan sejak sebelum kehamilan. Islam mengajarkan adab hubungan suami istri, agar jika dari hubungan itu muncul kehamilan, bisa menghindarkan janin dari godaan setan.
Islam mengajarkan sejumlah tuntunan saat menyambut kelahiran
bayi, itu semua adalah bagian utuh dari cara menanamkan nilai tauhid, nilai
kebenaran, nilai kebaikan kepada anak sejak dini. Bahkan sejak mereka belum
ada.
Seiring pertambahan usia, anak harus mendapatkan penanaman
nilai yang lebih lengkap dan lebih sempurna, sebagaimana telah dicontohkan oleh
Luqman Al-hakim dalam Alquran.
Luqman sebagai ayah telah menanamkan keyakinan tauhid ke
dalam jiwa anaknya, menanamkan keyakinan akan pengawasan Allah, sekaligus
menanamkan nilai-nilai kebaikan yang akan menjadi pedoman bagi sang anak untuk
menjalani kehidupan hingga akhir hayatnya. Jika anak memiliki pondasi nilai
yang benar dan kuat, akan menjadi modal terbesar dalam menghadapi seluruh
bentuk tantangan pada berbagai keadaan dan beragam zaman.
Mentoring dan Monitoring
Anak-anak memerlukan mentoring tentang berbagai macam hal dalam kehidupannya. Misalnya tentang teknologi, anak harus mendapatkan edukasi tentang penggunaan internet dan gadget secara positif. Ada tutorial atau mentoring tentang cara pemanfaatan internet, mentoring tentang rambu-rambu boleh serta tidak boleh, sehingga anak sejak awal sudah mengerti batasan.
Anak-anak memerlukan mentoring tentang berbagai macam hal dalam kehidupannya. Misalnya tentang teknologi, anak harus mendapatkan edukasi tentang penggunaan internet dan gadget secara positif. Ada tutorial atau mentoring tentang cara pemanfaatan internet, mentoring tentang rambu-rambu boleh serta tidak boleh, sehingga anak sejak awal sudah mengerti batasan.
Kadang orang tua sekedar memberikan segala sesuatu yang
diinginkan anak tanpa mentoring. Misalnya membelikan HP, gadget, tablet,
laptop, sarana game online dan akses internet tanpa batas
kepada anak, namun tidak diawali dengan mentoring tentang cara pemanfaatannya
secara positif. Dampaknya anak berpesta pora dengan semua fasilitas yang
diberikan orang tua tersebut tanpa mengetahui batasan yang semestinya mengikat
dirinya.
Selain mentoring untuk memberikan pengajaran, juga
diperlukan monitoring. Hendaknya orang tua berusaha memonitor anak dalam
penggunaan teknologi, jangan sampai kecanduan atau menggunakan untuk hal yang
tidak sejalan dengan kebaikan. Orang tua perlu memonitor sahabat-sahabat dekat
anak baik yang offline maupun online.
Orang tua perlu memonitor lingkungan permainan, lingkungan
pergaulan anak, sehingga menjadi tahu apakah anak berada dalam koridor
kebenaran dan kebaikan, ataukah sudah menyimpang dan bahkan terjerumus ke dalam
kejahatan. Sangat berbahaya jika anak lepas kontrol, tanpa monitoring dari
orang tua.
Terapkan Aturan Screen Time dan Family Time
Ini menyangkut aturan di dalam rumah, hari apa dan jam berapa, atau berapa jam maksimal penggunaan gadget bagi anak-anak. Bukan hanya untuk anak-anak balita atau anak kecil, namun aturan ini juga berlaku untuk orang tua dan seluruh anggota keluarga.
Ini menyangkut aturan di dalam rumah, hari apa dan jam berapa, atau berapa jam maksimal penggunaan gadget bagi anak-anak. Bukan hanya untuk anak-anak balita atau anak kecil, namun aturan ini juga berlaku untuk orang tua dan seluruh anggota keluarga.
Harus ada "family time", di mana pada waktu
tersebut seluruh perangkat harus diletakkan dan dijauhkan dari keluarga. Mereka
berinteraksi dan berkomunikasi, atau berkegiatan secara bersama-sama, tanpa
gangguan teknologi. Inilah hakikat "screen time" atau diet teknologi,
bahwa ada pembatasan pemakaian secara ketat sehingga keluarga tidak terjajah
oleh teknologi.
Sangat sering dijumpai, satu keluarga yang berkumpul di
rumah atau bepergian bersama-sama dalam rombongan, namun tidak ada interaksi di
antara mereka.
Semua asyik dengan gadget, semua asyik dengan dunia
masing-masing, tanpa peduli lingkungan sekitar. Kondisi ini, walaupun satu
keluarga sedang berada di tempat yang sama, tidak bisa disebut sebagai
"family time". Itulah "screen time" yang harus dibatasi,
dan dibuat kesepakatan bersama dalam keluarga. Kehangatan kasih sayang dalm
keluarga tidak boleh tergantikan oleh kehangatan interaksi dengan teknologi.
Kerjasama dengan Pihak Sekolah
Orang tua tidak bisa sendirian dalam mendidik anak, maka harus ada kerjasama dengan pihak sekolah dan lingkungan sekitar dalam mewujudkan generasi bangsa yang berkualitas.
Orang tua tidak bisa sendirian dalam mendidik anak, maka harus ada kerjasama dengan pihak sekolah dan lingkungan sekitar dalam mewujudkan generasi bangsa yang berkualitas.
Orang tua dan guru di sekolah harus saling mendukung upaya
mewujudkan "good digital citizens", sebab pihak sekolah kerap
memiliki pelajaran dan tugas terhadap siswa yang menggunakan perangkat gadget
serta koneksi internet.
Kadang dengan alasan mengerjakan tugas sekolah, anak minta
dibelikan fasiltas gadget canggih, padahal tuntutan pihak sekolah tidak sampai
ke tingkat itu. Hal-hal seperti inilah yang harus terus menerus dikomunikasikan
dan disepakati antara orang tua dengan pihak sekolah.
Nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dengan di sekolah,
hendaknya saling sinergi dan tidak berbenturan. Pada dasarnya, semua menghendaki
lahirnya anak-anak yang salih salihah, takwa, cerdas, trampil, sehat, kuat,
kreatif, inovatif, dan berbagai karakter positif lainnya.
Hanya saja, terkadang dijumpai tidak sinkron antara aturan
dan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dengan di sekolah. Dampaknya anak akan
mengalami keterpecahan, harus percaya kepada siapa. Harus mengikuti siapa.
Tentu situasi ini membingunkan bagi anak. Maka sangat penting kerjasama serta
sinergi orang tua dengan sekolah agar semua tujuan pembelajaran bisa tercapai
dengan optimal.
Ciptakan Lingkungan Pembelajaran
Lingkungan masyarakat juga harus mendapatkan edukasi dan diajak membuat kesepakatan positif untuk menciptakan suasana kondusif dalam pembelajaran anak.
Lingkungan masyarakat juga harus mendapatkan edukasi dan diajak membuat kesepakatan positif untuk menciptakan suasana kondusif dalam pembelajaran anak.
Jika suasana di rumah, sekolah dan lingkungan sekitar sudah
kondusif, akan memudahkan untuk mengarahkan anak-anak menuju kebaikan karakter
mereka.
Kita ingat kejadian lama, saat masyarakat tengah dihadapkan
pada realitas anak-anak yang kecanduan dengan televisi. Muncullah formula JBM
alias Jam Belajar Masyarakat, dimana masyarakat diminta mematikan televisi pada
jam 18.00 -- 20.00 karena itumerupakan jam mengaji dan belajar bagi anak.
Formula itu menjadi sangat menarik, bukan soal angka jam
yang dipersoalkan, akan tetapi pada keterlibatan masyarakat dalam menciptakan
situasi dan kondisi pembelajaran bagi anak-anak. Inilah yang dimaksudkan
sebagai lingkungan pembelajaran, karena anak-anak Indonesia tumbuh berkembang
di tengah kehidupan masyarakat.
Jika di rumah TV dimatikan, seorang anak bisa keluar untuk
menonton TV di rumah tetangga. Jika tetangga terdekat TV-nya juga dimatikan, ia
bisa numpang nonton di rumah tetangga sebelahnya lagi. Maka begitu masyarakat
semuanya kompak mematikan TV, anak-anak tidak lagi memiliki alternatif.
Di zaman sekarang ide JBM itu masih tetap relevan. Bisa
diberlakukan untuk jam mematikan gadget bagi seluruh anggota keluarga, guna
mendukung anak-anak untuk belajar dengan sebaik-baiknya, dalam suasana yang
kondusif.
Relevansi JBM lebih bertumpu kepada model pembentukan
lingkungan pembelajaran di tengah masyarakat. Sungguh ini ide keren, karena
suasana pembelajaran akan kondusif apabila mendapatkan dukungan nyata dari
lingkungan sekitar. Hendaknya masyarakat selalu memberikan suasana yang
kondusif bagi proses pembelajaran anak-anak.
Namun, yang lebih utama dan paling utama adalah suasana di
dalam keluarga itu sendiri. Sebab, segala sesuatu dimulai dari keluarga. Maka
apabila keluarga terjaga kebaikannya, akan berpeluang untuk melahirkan
anak-anak yang baik, anak-anak yang salih dan salihah.
Orang tua yang kompak dalam kebaikan, mampu membangun cinta
dan kasih sayang, mampu memberikan suasana yang nyaman dalam keluarga, akan
berdampak positif bagi anak hingga mereka dewasa kelak. Sebaliknya, orang tua
yang sering bertengkar, sering konflik, akan memberikan dampak negatif bagi
anak-anak.
Bahkan psikolog E. Mark Cummings, PhD dari Universitas Notre
Dame menyatakan bahwa pertengkaran orang tua bisa berdampak kepada anak di
segala usia. Artinya, dalam konteks pertengkaran orang tua ini, tidak bisa
dikatakan bahwa anak tidak akan terdampak jika ia masih sangat kecil, maupun
ketika sudah dewasa.
Baik masih bayi maupun anak yang sudah dewasa bahkan sudah
berkeluarga, pertengkaran orang tua memiliki dampak negatif bagi mereka. Maka
hendaklah menjadi orang tua yang kompak dalam kebaikan, kompak dalam cinta dan
kasih sayang, sehingga anak-anak akan tumbuh dalam suasana yang positif dan
konstruktif.
Sumber artikel: https://www.kompasiana.com/pakcah/5b85c753aeebe11eba075015/8-pedoman-pendidikan-anak-di-era-digital?page=all
Referensi:
1.
Abdullah Nasih Ulwan, Pendidikan
Anak Dalam Islam, Insan Kamil, 2015
2.
Abdul Wahhab Hamudah, Manajemen
Rumah Tangga Nabi Saw, Pustaka Hidayah, 2002
3.
Abu Al Hamd Rabi', Baitul
Muslim Al Qudwah, Era Adicitra Intermedia, 2015
4.
Cahyadi Takariawan, Wonderful
Family, Era Adicitra Intermedia, 2016
5.
Daniel Goleman, Emotional
Intelligence, PT Gramedia Pustaka Utama, 2000
6.
Darlene Powell Hopson dan Derek S.
Hopson, Menuju Keluarga Kompak, Kaifa, 2002
7.
Elizabeth B. Hurlock, Psikologi
Perkembangan, Erlangga, 2006.
8.
Ida Nur Laila, Menyayangi
Anak Sepenuh Hati, Era Adicitra Intermedia, 2007
9.
Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi
Remaja, Rajawali Press, 2006
10. Syaikh Hasan Ayyub, Fikih Keluarga, Pustaka Al
Kautsar, 1999

0 comments:
Post a Comment